skip to Main Content
Lestarikan Hutan, Berdayakan Masyarakat

Lestarikan Hutan, Berdayakan Masyarakat

Kalimantan Utara memiliki wilayah hutan yang sangat luas. Dari lebih 72 ribu kilometer persegi luasnya, 70 persen masih berupa kawasan hutan. Kaltara juga masuk jantung Kalimantan atau Heart of Borneo (HoB). Untuk itu, kondisi alam yang ada perlu dijaga agar tetap lestari berdampingan dengan perkembangan daerah.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara Syarifuddin mengatakan, peran masyarakat perlu dilibatkan dalam menjaga kondisi hutan Bumi Benuanta -sebutan Kaltara. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sedang diberdayakan untuk tidak lagi memanfaatkan hutan dengan mengambil kayunya. Namun. agar masyarakat bisa mengambil hasil hutan bukan kayu.

“Pemanfaatannya diarahkan pada hasil kayu tapi bukan kayunya. Misal, rotan, air, tempat rekreasi, ke situ arahnya. Hutan lestari, hasilnya jauh lebih besar daripada hasil kayunya, kalau kayunya ditebang yang didapat adalah longsor,” tuturnya usai kegiatan penanaman pohon di Brigif 24/BC, Selasa (28/11).

Potensi hasil hutan bukan kayu, kata Syarifuddin, cukup besar di Kaltara dengan luasannya tersebut. Tetapi, saat ini belum tergarap dengan maksimal oleh masyarakat. Untuk itu, masyarakat diarahkan untuk memaksimalkan manfaat hutan bukan kayu seperti untuk tempat rekreasi.

“Memang masyarakat belum merasakan sekarang. Kalau kayu dijual memang langsung dapat uang, tapi jika hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan hasilnya akan berkelanjutan sampai anak cucu nanti,” terangnya.

Salah satu upayanya adalah membagikan pohon kepada masyarakat di sekitar hutan. Dia mengatakan, sudah membagikan lebih 88 ribu pohon kepada masyarakat. Terdiri dari 560 bambu, 3 ribu kayu-kayuan, 17 ribu multipurpose tree species (MPTS), dan 61 ribu mangrove. MPTS adalah sistem pengelolaan lahan, dimana berbagai jenis kayu ditanam dan dikelola, tidak saja untuk menghasilkan kayu. Tetapi juga daun-daunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan ataupun pakan ternak.

“Untuk MPTS adalah tanaman yang menghasilkan buah-buahan terbaik, sehingga yang diambil masyarakat nanti bukan kayunya tapi buah dan hasil kayunya. Masyarakat juga kini sudah dilegalkan memanfaatkan kawasan hutan yang sebelumnya tidak diperbolehkan, bahkan diusir. Sehingga mereka bisa mengambil manfaat dari hutan secara sah hingga 35 tahun ke depan,” ungkapnya.

Ditanya soal pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH) Dana Reboisasi (DR), Syarifuddin menyebut masih direvisi oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dia mengatakan dalam revisi tersebut diharapkan dana reboisasi yang mencapai Rp 126 miliar bisa dimanfaatkan untuk melakukan penanaman di dalam kawasan hutan. Atau, dana tersebut bisa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan dengan memberi bibit pohon atau semacamnya.

“Atau untuk membangun fasilitas jalan ke kampung yang sudah dibantu untuk pemanfaatan hutan,” imbuhnya.

Ketua DPRD Kaltara Maten Sablon, meminta pemerintah untuk melakukan inventarisasi lahan yang sudah gundul. Kemudian, diprogramkan untuk penanaman pohon secara kontinu setiap tahunnya. Sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat.

“Jadi, yang perlu ditanam pohon supaya diagendakan setiap tahun harus beberapa kali tanam pohon. Manfaatnya bukan hanya untuk masyarakat kita karena hutan ini kan paru-paru dunia,” terangnya.

Rektor Universitas Kaltara Prof Abdul Jabarsyah juga meminta pemerintah untuk membuat aturan agar masyarakat tidak melakukan penebangan pohon yang ada di sekitar jalan. Hal ini karena keberadaan pohon di Kaltara menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan, khususnya wisatawan luar negeri. Menurutnya, tak hanya wisatawan luar negeri yang menyukai kondisi alam Kaltara, warga luar Kalimantan pun banyak yang tertarik dengan wisata alam.

“Banyak dari mereka yang suka suasana di sini karena masih ada banyak pohon. Untuk itu, perlu ada aturan untuk tidak menebang pohon agar orang yang tertarik ke Kaltara, karena alamnya tidak kecewa,” terangnya. (rus/fen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
X